14 April 2013 - 07:58

Jadi tepat, jika dikatakan Imam Ali as adalah pemberani, sebab beliau telah membuktikan keberaniannya dalam mengendalikan nafsu dan kemampuannya yang hebat dalam mengendalikan diri untuk kemaslahatan yang lebih besar.

Menurut Kantor Berita ABNA, berikut penjelsan Ayatullah al Uzhma Ja'far Subhani salah seorang ulama marja taqlid Syiah yang juga banyak bergelut dengan wacana ikhtilaf Sunni-Syiah dan telah banyak menghasilkan karya-karya untuk menjawab syubhat dan tudingan negatif yang dilontarkan sekte Wahabi terhadap keyakinan mazhab Ahlul Bait. Berikut diantaranya. Syubhat: Dikatakan dalam fiqh Syiah, perempuan tidak menerima warisan tanah, lantas bagaimana bisa dikatakan Sayyidah Fatimah as menerima warisan berupa tanah Fadak dari ayahnya Rasulullah Saw? Jawaban: Syubhat tersebut sama halnya dengan mengatakan, Khasan dan Khusain, adalah dua anak perempuan Muawiyah. Pertama, yang benar bukan Khasan dan Khusain melainkan Hasan dan Husain. Kedua, mereka bukan anak Muawiyah melainkan anak Imam Ali bin Abi Thalib. Ketiga, mereka bukan anak perempuan melainkan anak laki-laki. Jadi sebenarnya kesalahan ada pada obyek syubhatnya. Jika dikatakan, dalam fikih Syiah perempuan tidak menerima warisan tanah. Maka jawabannya, yang pertama, fikih tersebut berkenaan dengan apa yang diwarisi istri dari suaminya. Sayyidah Fatimah as bukanlah istri Nabi Saw melainkan puteri beliau. Dan baik anak laki-laki maupun perempuan mempunyai hak untuk mendapatkan warisan dari ayahnya. Kedua, Fadak itu bukan tanah warisan. Melainkan tanah pemberian Rasulullah Saw sewaktu beliau masih hidup kepada putrinya. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat, ( وآت ذا القربى حقه والمسکین وابن السبیل ولا تبذر تبذیراً , maka Rasulullah Saw memberikan tanah Fadak yang merupakan harta rampasan perang tersebut kepada putrinya. Maka sejak itu tanah Fadak dikelola oleh orang-orang yang dipekerjakan oleh Sayyidah Fatimah as. Namun kemudian hanya oleh satu hadits majhul (tidak dikenal) «نحن معاشر الأنبیاء لا نورث» tanah Fadak tersebut diambil alih oleh Khalifah pertama, dan dimasa Khalifah Utsman di kelola oleh keluarga Marwan. Syubhat: Dikatakan dalam tarikh Islam, bahwa Imam Ali as adalah seorang pemberani, pejuang Islam yang gagah berani, yang banyak menumbangkan musuhnya diberbagai medan jihad. Lantas apakah pantas sang jagoan ini berdiam diri saja melihat istrinya diperlakukan tidak hormat? Jawaban: Tidak terpungkiri Imam Ali adalah seorang pemberani dan pemenang dalam berbagai laga tanding dengan jagoan-jagoan dari kalangan kafir Qurays dan para musuh. Beliau adalah satu-satunya sosok yang disebut Nabi Saw dalam perang Khandak sebagai seseorang yang sekali sabetan pedangnya lebih baik dari ibadah siang malam.(1). Namun mengenai berbagai peristiwa diawal-awal kepergian Rasulullah, Imam Ali as diperhadapkan pada kondisi beliau harus mendahulukan kesabarannya dibanding ketangguhannya dalam bertarung. Jika Imam Ali as memilih untuk melawan dan bertarung dengan kelompok yang melakukan penyerangan terhadap rumahnya dan melakukan tindakan tidak layak kepada istrinya, maka bisa dipastikan akan terjadi perang saudara dalam tubuh Islam. Sementara Daulah Islam saat itu membutuhkan penopang untuk menghindari keruntuhannya dengan wafatnya Rasulullah Saw. Kaum muslimin yang bermukim di luar Madinah jika mengetahui terjadinya konflik dan pertumpahan darah diantara tokoh pembesar Islam maka memungkinkan iman mereka terhadap Islam goyah dan sangat besar kemungkinannya mereka akan murtad. Untuk kemaslahatan umat Islam itulah, imam Ali lebih memilih untuk bersabar dan menang atas kendali amarahnya. Ini dibuktikan dengan ucapan mulia Amirul Mukminin as mengenai kejadian tersebut, "Saya bersumpah demi Alah, Apabila tidak mencegah kondisi perpecahan dan perselisihan, maka sebuah hantaman akan mengenai Islam yang tidak ada satu musibah pun lebih besar dari hal itu." (2) Bisa dibayangkan, jika Daulah Islam yang masih berusia muda kala itu sedang terlibat dalam perang saudara karena Imam Ali as bersikeras mempertahankan haknya, sementara musuh-musuh Islam baik dari dalam maupun dari luar, siap menggerogoti dan menghantam Islam, maka bisa dipastikan, tidak ada dalam sejarah umat Islam mampu menaklukkan Romawi dan Persia. Dengan alasan ini pula, Imam Ali as lebih memilih berdamai dan turut mengambil peran penting dalam pemerintahan khalifah sebelumnya yang telah dibaiat mayoritas kaum muslimin. Jadi tepat, jika dikatakan Imam Ali as adalah pemberani, sebab beliau telah membuktikan keberaniannya dalam mengendalikan nafsu dan kemampuannya yang hebat dalam mengendalikan diri untuk kemaslahatan yang lebih besar. Wallahu ta'ala 'alam (1). Tarikh Damsyik, jilid 1, hal 155. Al Dur al Mantsur, jilid 5 hal, 192. (2). Nahjul Balaghah Surat ke 62.